|
| |
Psoriasis dan Percaya Diri
http://www.psoriasisindonesia.org/
Kulit
merupakan bagian terluas dari tubuh dan merupakan bagian yang penting bagi
setiap individu. Penampilan fisik, khususnya kulitlah yang pertama kali terlihat
dan tampak dari luar (baik bagi individu itu sendiri maupun bagi orang lain),
sehingga kondisinya lebih segera mempengaruhi pandangan orang lain (dan juga
diri sendiri) dan responsnya pun biasanya lebih mendalam dibandingkan dengan
penyakit pada bagian tubuh yang lain.
Psoriasis merupakan penyakit kulit yang kronis dan bersifat kambuhan. Bila
seseorang individu mengalami psoriasis, maka akan terjadi perubahan-perubahan
pada penampilan kulitnya, apalagi apabila sudah dialami dalam waktu yang cukup
lama, biasanya perubahan-perubahan tesebut akan lebih dirasakan. Dalam
menghadapi perubahan tersebut, setiap individu akan berespons dan mempunyai
persepsi yang berbeda-beda tergantung pada kepribadian dan ketahanan diri
terhadap stress, konsep diri dan citra diri, serta penghayatan terhadap
mengalami penyakit tersebut; misalnya ada yang merasa marah karena merasa tidak
beruntung, sehingga cenderung menyaalahkan hal-hal atau orang lain di sekitarnya
atau menyesali nasibnya mengalami psoriasis; adapula yang merasa bersalah pada
diri sendiri, merasa mendapat kutukan Tuhan sehingga merasa sedih dan merasa
masa depannya suram. Di lain pihak banyak pula individu yang dapat menerima
kenyataan bahwa psoriasis yang dialami sebetulnya tidak berbahaya yang walaupun
mengubah penampilan, namun tetap harus dihadapi agar tetap hidup dengan lebih
nyaman.
Lalu bagaimana agar bagi sebagian dari kita yang kebetulan mengalami psoriasis,
dapat menerima kondisinya dan dapat beradaptasi dengan baik, sehingga tetap
dapat beraktivitas dan berfungsi dalam kehidupan sehari-harinya dengan tetap
nyaman ? Pada makalah ini akan dibahas mengenai konsep diri, citra diri serta
penerimaan diri terhadap psoriasis agar seseorang dapat tetap percaya diri dalam
menjalani kehidupannya sehari-hari.
CITRA TUBUH DAN CITRA DIRI
Citra tubuh adalah persepsi seseorang mengenai tubuhnya, baik bentuk fisik
maupun yang dibayangkannya. Misalnya seseorang merasa bahwa tubuhnya itu lengkap
atau tidak, atau seseorang merasa bahwa tubuhnya itu tinggi atau pendek, gemuk
atau kurus. Perasaan atau persepsi panca indera tersebut dapat merupakan yang
sebenarnya atau khayalannya saja, misalnya seseorang merasa gemuk, padahal
menurut pandangan orang lain ia tidak gemuk.
Citra tubuh akan mempengaruhi konsep diri seseorang. Konsep diri ini akan
mempengaruhi penilaian terhadap diri sendiri. Bila seseorang menilai diri
sendiri positif, maka seseorang akan memasuki dunia dengan harga diri yang
positif dan penuh percaya diri. Harga diri positif, terciri oleh perasaan bahwa
seseorang itu mempunyai kemampuan, dicintai orang lain, menghargai etika dan
bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Bila terjadi distorsi atau perubahan
dalam citra tubuh seseorang, maka konsep dirinyapun dapat berubah.
DAMPAK PSIKOLOGIK DALAM PSORIASIS
Pada saat seseorang diberitahu bahwa ia mengalami psoriasis atau sebaliknya,
individu tersebut belum mengetahui nama penyakit yang dialaminya tetapi sudah
merasakan atau mengalaminya, apalagi sudah mengalami untuk beberapa lama atau
bahkan sudah menahun, biasanya akan terjadi suatu proses psikologik dalam diri
individu tersebut. Reaksi emosional yang terjadi biasanya melalui 6 tahapan,
yaitu :
1. Penolakan (denial)
Yaitu menyangkal atau tidak percaya atau belum menerima bahwa ia mengalami
penyakit tersebut
2. Marah
Marah kepada orang lain atau bahkan kepada Tuhan mengapa ia yang harus mengalami
penyakit tersebut
3. Depresi
Merasa sedih, merasa bersalah, merasa bahwa ia memang patut mengalami kondisi
sakitnya sekarang. Sering juga individu mengkait-kaitkan penyakit yang dialami
dengan perbuatannya di masa lalu
4. Kecemasan
Merasa cemas dan tegang setelah mengetahui, menjadi berpikir dan mengantisipasi
ke masa yang akan datang, bagaimana menghadapi hidup selanjutnya dengan kondisi
yang sekarang dialami tersebut
5. Tawar menawar
Mulai dapat menerima, tetapi di saat yang sama juga masih sulit membayangkan
harus mengalami kondisi yang berubah tersebut
6. Menerima
Sudah dapat menerima keadaan yang berubat tersebut, sehingga dapat menjalani
hidup dengan lebih nyaman
Berat atau ringannya gejala psikiatrik pada tahapan ini serta lama
berlangsungnya setiap tahapan berbeda pada setiap individu, tergantung pada
kepribadian (termasuk kemampuan mengerahkan mekanisme mengatasi perubahan karena
mengalami psoriasis), daya tahan terhadap stress yang terjadi, serta persepsi
tentang perubahan citra tubuh yang terjadi setelah mengalami psoriasis.
Perubahan-perubahan psikologik yang terjadi bersamaan dengan tahapan tersebut di
atas setelah seseorang mengalami perubahan-perubahan kulit karena psoriasis,
dapat bersumber dari :
1. Diri sendiri
a. Perubahan focus pikiran dan perasaan; setelah mengalami perubahan pada
kulitnya, secara sadar dan nirsadar individu menjadi lebih berpikir tentang hal
itu karena ia senantiasa melihat kulitnya yang berubah, yang kemudian diikuti
dnegan perilaku memandangi diri di depan cermin secara berulang-ulang. Respons
psikologik yang terjadi saat itu tergantung pada tahap mana ia sudah melalui
tahapan psikologik yang telah disebutkan diatas, bila masih dalam tahap
penolakan, mungkin ia akan tidak percaya ketika memandangi dirinya di cermin dan
selanjutnya akan menyangkalnya, bila sudah masuk ke tahap depresi, individu akan
merasa kehilanagan dirinya yang dulu, sehingga ia dapat menjadi sedih, merasa
bersalah bahkan putus asa.
b. Perubahan citra tubuh : setelah menyadari terdapatnya perubahan pada kulitnya
yang menyebabkannya menjadi lebih “berpikir” tentang hal itu dan diikuti
perilaku bercermin untuk memastikan perubahan tersebut pada tubuhnya, individu
akan mengalami perubahan citra tubuh, ia akan merasa tubuhnya berubah, tidak
sebagaimana dulu lagi. Respons inipun akan bervariasi pada setiap orang. Ada
yang merasa bahwa ia tidak sempurna lagi, namun banyak pula yang walau melihat
perubahan tersebut, namun dapat menerima kondisi tersebut.
c. Perubahan citra diri : Citra diri akan mempengaruhi konsep diri seseorang,
yang akan mempengaruhi pula penilaian terhadap diri sendiri. Bila penilaian diri
itu positif, maka ia akan memiliki harga diri yang positif pula. Bila terjadi
distorsi atau perubahan citra tubuh ke arah negatif, akan menyebabkan
terbentuknya citra diri yang negatif. Hal ini terjadi lebih karena persepsi dan
fantasinya sendiri.
d. Perubahan rasa percaya diri; dengan citra diri yang berubah, individu akan
mengalami perubahan harga diri, yang menyebabkan pula perubahan pada rasa
percaya dirinya. Ia menjadi tidak percaya lagi pada kemampuan dan potensi
dirinya, yang sebetulnya tidak berubah bila orang lain menilainya.
2. Stigmatisasi dari lingkungan
Stigma yang terbutuk karena ketidakmengertian masyarakat tentang psoriasis,
ditambah adanya anggapan yang salah bahwa psoriasis itu menular, menyebabkan
timbulnya pelbagai perubahan emosional pada individu, antara lain :
a. mengantisipasi penolakan (individu merasa bahwa karena psoriasisnya, orang
lain akan menolaknya)
b. Merasa ada defek di dalam diri
c. Merasa malu dan bersalah
d. Hilangnya penilaian positif dan kepercayaan terhadap orang lain
Menurut penelitian, pada individu yang mengalami psoriasis dan mempunyai
pekerjaan dan atau mereka yang mengalami psoriasisnya setelah dewasa akan lebih
tahan terhadap stigmatisasi
MENGALAMI PSORIASI DENGA TETAP PERCAYA DIRI
Hingga kini penyebab yang pasti dari psoriasis belum diketahui, yang telah
diketahui adalah adanya factor-faktor predisposisi yang dapat mencetuskan
kekambuhan oleh karena itu oengobatan yang dapat menyembuhkan pun belum ada.
Fakta ini yang harus diketahui oleh seseorang yang mengalami psoriasis dan juga
keluarganya
Belum adanya pengobatan yang pasti bukanlah hal yang menghambat kita untuk
mengatasi psoriasis. Karena factor-faktor yang mencetuskan sudah diketahui, maka
kita dapat berangkat dari factor tersebut. Diantara beberapa factor yang
merupakan factor predisposisi, stress merupakan salah satu yang penting
(disamping factor genetic dan factor biologik lainnya). Stres atau perasaan
tertekan (dalam hal ini karena mengalami psoriasis) dapat mengakibatkan
perubahan-perubahan psikologik seperti telah disebutkan sebelumnya. Stress
terjadi karena dipicu oleh pengalaman-pengalaman emosional yang membuat individu
menjadi tidak nyaman dan harus mengerahkan mekanisme pertahanan psikologiknya
secara optimal. Di lain pihak, tidak semua individu yang mengalami psoriasis
memerlukan bantuan atau dukungan pihak lain, karena sudah memiliki cara
mengatasi ketidaknyamanan psikologik tersebut secara optimal. Walaupun cara
tersebut dipengaruhi oleh tipe kepribadian (misalnya ada individu yang lebih
sadar akan diri, ada yang lebih peka terhadap komentar dan penolakan), namun
terdapat beberapa hal yang dapat diperhatikan dan dilakukan, antara lain :
Membekali diri dengan pengetahuan sebanyak mungkin tentang psoriasis dan selalu
berusaha mendapatkan informasi terbaru, dengan demikian kita dapat menjaga diri
dengan lebih baik dan dapat berdiskusi dengan teman dengan lebih baik pula
Melatih menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang psoriasis (baik itu berasal dari
kelompok studi atau internet,dll) sehingga kita menjadi lebih nyaman berbicara
tentang hal itu.
Memfokuskan pada hal-hal yang positif dalam hidup, keluarga, teman-teman,
kegemaran, aktivitas yang menyenangkan, mengembangkan bakat yang ada, dll. Cari
aktivitas dan kelompok baru bila perlu. Psoriasis memang sesuatu yang tidak
mengenakan, tetapi itu hanya merupakan salah satu bagian dari hidup kita.
Usahakan tidak membuat psoriasi menjadi pusat perhatian sehingga hidup kit
terkonsentrasi disitu.
Melakukan hal-hal yang menambah harga diri dan percaya diri, misalnya menentukan
target pribadi dalam apapun (pekerjaan, hidup, dll) memelihara persahabatan dan
system pendukung yang lain, merumuskan kembali bahwa psoriasis yang dialami
sebagai suatu kondisi medik, bukan sesuatu yang membuat malu.
SIMPULAN :
Psoriasis, penyakit kulit yang menahun dan bersifat kambuhan, belum diketahui
penyebab yang pasti dan yang dapat diantisipasi adalah factor-faktor
predisposisi. Salah satu factor yang penting adalah penerimaan diri terhadap
penyakit tersebut, sehingga tidak terjadi perubahan citra tubuh, citra diri,
harga diri dan percaya diri ke arah yang tidak mendukung. Proses penerimaan diri
mengalami psoriasis melalui beberapa tahap, yang lama dan derajatnya bervariasi
antara satu individu dengan yang lain. Selain itu, karena beberapa saran diatas
dapat dipertimbangkan.
| |
|
Apakah Anda merasa diri Anda selalu
gagal, tidak berharga atau
kurang sempurna
?
100% GRATIS
Cara spiritual
dari Master Narendra untuk membangun kepercayaan diri yang luar
biasa..!
Bukan hanya itu, dengan olah
spiritual yang dikemas secara profesional dan modern ini, Anda
bisa memperoleh :
- Pengobatan Segala Penyakit
- Badan Lebih Sehat & Kuat
- Perlindungan Dari Kejahatan
- Selamat Dari Bencana
- Kepekaan Rasa
- Ketenangan Batin
- Bersihkan energi negatif untuk
kesuksesan karir, cinta dan masih banyak lainnya...
Master Narendra akan mengajarkan
sebuah ilmu spiritual yang bernama Asmak Malaikat. Sangat mudah
dipraktekkan.
Oya, ajaran spiritual ini adalah
warisan dari Sunan Muria (Raden Umar Said), salah satu anggota
Wali Songo.
Terbuka untuk semua orang, semua
agama. Syarat usia di atas 17 tahun, percaya adanya Tuhan
dan bertujuan baik.
Anda ingin?
Click saja di sini >>>
|
|
|