|
| |
Tips Kalau Anda Mau Percaya Diri
Jakarta, Kompas
Oleh: SAMUEL MULIA, Penulis Mode dan Gaya Hidup
Kalau banyak dari kita membeli barang-barang mahal nan mewah, sebut saja tas
mahal, mobil mahal, sepatu mahal, bahkan punya rumah mahal di daerah kelas atas,
maka dari sejuta alasan yang akan diberikan, jika Anda menanyakan mengapa mereka
membelinya, pasti saya yakin ada saja yang mengatakan bahwa semua itu akan
menambah kepercayaan diri.
Saya adalah salah satu korban pemikiran semacam itu. Tanpa mengurangi rasa
hormat dan syukur --karena saya sebetulnya sangat menghormati dan bersyukur--
kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi dan makhluk di dalamnya,
saya terlahir dengan fisik sederhana dan biasa-biasa saja. Kecil, kurus, dan...
hidup, itu kata teman saya.
Ganteng? Itu tak herlaku untuk saya. Waduh... dibandingkan dengan pria-pria
lainnya, saya tidak masuk hitungan. Kalau dimisalkan sebuah lomba, mau masuk
semifinal saja mungkin saya harus perlu katebelece. Bahkan, kalaupun ada 100
atau bahkan 500 pria terganteng, saya pun juga tak akan masuk ke dalamnya. Nomor
499 saja pun masih jauh rasanya.
Karena saya jauh dari sosok seperti Marcellino Lefrand atau Ari Wibowo, bahkan
Tora Sudiro, maka dalam perjalanan hidup ini saya pernah mempunyai periode tak
percaya diri. Dulu saya tak pernah memikirkan ini bakal terjadi. Dan waktu itu
terjadi dan saya menyadarinya, hati ini sempat tidak menerima. Kok pendeklah,
kok jeleklah, kok ini, kok itu, dan seterusnya, dan seterusnya.
Kalau fisik saya tak seberapa, keadaan finansial dan karier saya boleh dikatakan
lumayan. Dengan keadaan itu, saya mulai mengenal enaknya bisa beli barang-barang
mahal, mulai dari tas, kemudian sepatu, kemudian baju. Jadwal perjalanan saya
melintasi benua juga menambah kepercayaan diri saya. Bayangkan saja, pria yang
tadinya biasa-biasa saja, fisik yang sama sekali tidak menarik, tiba-tiba bisa
terbang ke sana kemari, beli jas Armani, dan sepatu John Lobb.
Seperti narkoba
Semua itu membuat saya kemudian merasa barang-barang mahal ini adalah sarana
agar saya bisa terus merasakan hadirnya percaya diri. Harus diakui keadaan itu
sangat nikmat dilakoni. Saat itu saya herterima kasih di dunia ini ada barang
bermerek. Barang yang ternyata membantu saya menepis, paling tidak, kesedihan
saya sebagai manusia yang fisiknya dilahirkan biasa-biasa saja, bahkan tak ada
geregetnya, untuk dapat sejenak merasa senang bisa membuat orang menoleh kepada
saya yang tidak saya dapatkan dari keadaan lahir.
Akhirnya saya sering melarikan diri bersembunyi, dan memeluk barang-barang mahal
itu sebagai senjata untuk memesona orang lain, untuk menerima hormat orang lain
dan untuk dapat diakui.
Semua itu seperti narkoba. Saya seperti tak lagi bisa memercayai kemampuan saya
sebagai manusia, tetapi malah menggantungkannya pada harang-barang itu. Saya
tidak malah mencoba memesona orang dengan kepribadian saya, tetapi justru dengan
menyodorkan barang-barang itu ke hadapan mereka. Saya menjadi senang dibicarakan
orang karena barang-barang itu ketimbang saya yang punya otak sedikit encer.
Dengan waktu yang bergulir dan kematangan jiwa, kini saya berpikir bagaimana
mungkin saya bisa percaya diri dengan bantuan benda-benda mati itu? Bagaimana
mungkin saya mencari kepercayaan diri di balik logo-logo barang mahal itu?
Bagaimana mungkin kepercayaan diri saya cuma seharga barang mahal itu?
Itu bukan kepercayaan diri yang saya dapatkan, itu cuma ego yang terpuaskan yang
membuat saya malah cenderung menjadi sombong. Dan saat saya merasa punya
kepercayaan diri dengan benda mati mahal itu, saat itu justru saya sedang
benar-benar dalam keadaan tidak percaya diri. Itu sebuah rasa percaya diri yang
semu.
Saya tak akan berhenti membeli barang-barang mahal karena sejujurnya saya tak
mampu berhenti terpukau. Tetapi, kini saya tahu, saya membeli hanya untuk
kesenangan ego semata, bukan membeli karena saya mencari tempat perlindungan.
Sepengetahuan saya juga, butik bernama Prada, Dior, dan nama-nama lainnya hanya
menjual tas, baju, dan sepatu. Di etalase mereka pun tak pernah tertulis: Di
sini menjual kepercayaan diri buatan Perancis.
Tips Kalau Anda Mau Percaya Diri
1. Sadarilah sejak awal bahwa kata percaya diri itu berarti Anda yang percaya
kepada diri Anda. Percaya diri tak berarti percaya pada sebuah benda, sebuah
logo, atau sebuah merek, tetapi Anda titik. Jadi, kalau percaya diri yang mau
ditingkatkan, yang harus naik kelas itu Anda, yang ditingkatkan itu Anda, bukan
benda-benda mati, mahal nan mewah itu. Itu namanya bukan percaya diri, tetapi
percaya benda mati.
2. Mau menambah percaya diri tak bisa hanya bermodalkan keadaan lahiriah semata.
Apalagi kalau lahiriahnya seperti saya. Kepala Anda juga mesti diisi dengan
berbagai macam pengetahuan dan informasi. Kalaupun Anda bisa nyerocos dalam
tujuh bahasa—di luar bahasa daerah—tetapi apa yang Anda bicarakan hanya berkisar
berlian dan membedah isi majalah People, sebaiknya Anda tak usah bangga dahulu.
3. Bergaul. Bersosialisasilah seluas-luasnya, bukan sebanyak-banyaknya. Luas itu
artinya Anda bergaul di berbagai macam kalangan, tanpa punya prasangka dan
batasan apa pun. Semua kalangan memiliki keunikannya sendiri. Anda akan menjadi
manusia yang lebih terbuka dengan mencoba menyelami aneka rupa kalangan ini. Tak
perlu banyak-banyak yang Anda kenal, nanti malah jadi arisan.
4. Jangan biasakan bersembunyi di balik orang lain untuk menjadi percaya diri.
Kalau Anda memang hanya kenal adiknya Titi DJ, bilang saja, ”Oh gue kenal tuh
sama Samuel.” Tak perlu mengatakan, ”Oh gue kenal sama adiknya Titi DJ.” Yang
Anda kenal Samuel, adiknya Titi DJ. Anda tak kenal Titi DJ, bukan? Jadi jangan
membuat orang berasumsi Anda kenal dengan Titi DJ seolah-olah pergaulan Anda
begitu hebatnya.
Atau suatu hari teman Anda mengajak pergi dan kebetulan dia mengenal Dian Sastro
dan mengajaknya pergi bersama. Ketika ditanya apa yang Anda lakukan kemarin,
Anda bilang saja pergi ke Ancol. Tak perlu mengatakan, ”Kemarin gue sama Dian
Sastro ke Ancol.” Yang kenal Dian dan mengajaknya pergi itu teman Anda dan bukan
Anda. Oke?
5. Biasakan menjadi pribadi yang sederhana, rendah hati, dan tak perlu
petantang-petenteng. Percaya diri itu bukan artinya Anda membeberkan kehebatan
pribadi Anda. Ingat akan pepatah yang mengatakan, padi yang makin berisi itu
makin merunduk.*
| |
|
Apakah Anda merasa diri Anda selalu
gagal, tidak berharga atau
kurang sempurna
?
100% GRATIS
Cara spiritual
dari Master Narendra untuk membangun kepercayaan diri yang luar
biasa..!
Bukan hanya itu, dengan olah
spiritual yang dikemas secara profesional dan modern ini, Anda
bisa memperoleh :
- Pengobatan Segala Penyakit
- Badan Lebih Sehat & Kuat
- Perlindungan Dari Kejahatan
- Selamat Dari Bencana
- Kepekaan Rasa
- Ketenangan Batin
- Bersihkan energi negatif untuk
kesuksesan karir, cinta dan masih banyak lainnya...
Master Narendra akan mengajarkan
sebuah ilmu spiritual yang bernama Asmak Malaikat. Sangat mudah
dipraktekkan.
Oya, ajaran spiritual ini adalah
warisan dari Sunan Muria (Raden Umar Said), salah satu anggota
Wali Songo.
Terbuka untuk semua orang, semua
agama. Syarat usia di atas 17 tahun, percaya adanya Tuhan
dan bertujuan baik.
Anda ingin?
Click saja di sini >>>
|
|
|